Masyarakat Ot-Danum di Hulu Sungai Kahayan (bag.1)

19 12 2011

Puruk Sandukui yang terletak di Pegunungan Muller, Kalimantan Tengah (c) Mansyur Geiger

Dalam mimpi masa kecil, saya tak pernah membayangkan bisa berpetualang melihat keindahan dan keunikan Pulau Borneo. Tak sekalipun saya berpikir akan melintasi hutan, menelusuri sungai, melewati pegunungan, meniduri desa demi desa yang terisolasi, mencicipi makanan yang diambil dari bahan yang rasanya aneh di lidah, menaiki kelotok, berenang di hulu sungai yang jernih, terlebih mendengar bahasa-bahasa yang beragam. Saya sangat bersyukur bisa menikmati ciptaan Tuhan yang sangat luar biasa ini. Jika tahun 2010 lalu saya bercerita banyak mengenai perjalanan yang mengesankan di sepanjang hulu Sungai Barito, tahun 2011 ini adalah kumpulan cerita dari hulu sungai Kahayan.

Menjelajahi wilayah Heart of Borneo sisi hulu Kahayan, tepatnya disepanjang aliran sungai Miri, cabang sungai Kahayan. Disini hidup orang orang keturunan Ot-Danum (Ot berarti Hulu, Danum berarti air/sungai). Desa yang paling ujung bernama Harowu, air sungainya sangat jernih. Tetapi saya ingin bercerita tentang wilayah ini secara keseluruhan dulu, mengenai asal usul legenda mereka yang unik. Pada bab selanjutnya baru akan saya ceritakan kehidupan orang di desa ini, mata pencaharian, impian mereka juga tempat tempat indah seperti Batu Suli dan Sandukui.

Bersama rekan kerja mejeng dulu di atas getek (bus air) dengan latar belakang Batu Suli

Melintasi Pegunungan dan Bukit Perjalanan kami dimulai dari kota Palangka Raya (ibukota Kalimantan Tengah), menaiki mobil menuju Kuala Kurun dengan jarak tempuh kurang lebih 4 jam. Kuala Kurun adalah ibukota Kabupaten Gunung Mas. Mungkin nama Gunung Mas dikarenakan wilaya nya yang  dikelilingi pegunungan dan banyak menghasilkan emas. Kenyataannya memang banyak penduduk sini maupun pendatang yang bekerja mengambil emas secara liar. Dari Kuala Kurun perjalanan dilanjutkan menaiki mobil 4WD, mobil kelas berat karena cuman mobil ini yang mampu melewati medan yang tak beraspal, jalan-jalan ini bukan milik Negara tetapi milik HPH (Perusahaan Kayu). Kami menaiki strada suami Bu Kades Tumbang Masukih.

Read the rest of this entry »





Seragam Merah Putih

17 08 2011

Indonesia

Merah darahku, Putih tulangku bersatu dalam semangatku

 

Seragam merah putih mengingatkan saya pada seorang gadis kecil 15 tahun yang lalu. Dia menguncir rambutnya dengan pita merah putih di sebelah kanan dan kiri, berbaju putih kerah dengan pin berlogo Indonesia Merdeka, berdasi merah bertulis Tut Wuri Handayani, rok berlipat lipat berwarna merah, ikat pinggang hitam, tas mungil dipunggung, kaos kaki putih dengan sepatu pantovel hitam. Dia melangkah kecil namun penuh semangat berjalan kaki menuju sekolah didesanya SDN Mulyoagung 3, Dau, Kab. Malang, Jawa Timur. Hari itu adalah hari upacara memperingati Kemerdekaan Indonesia, anak kelas 6 dipercaya menjadi tim Paduan Suara yang siap menyanyikan lagu-lagu wajib dan kebangsaan. Beberapa dari mereka bersiap menjadi pasukan pengibar bendera, pemegang bacaan naskah proklamasi dan UUD 1945, satu orang menjadi komandan upacara dan Bapak Kepala Sekolah, Pak Tupanianto memimpin menjadi Inspektur upacara. Bu Narmi berada di samping tim Paduan Suara untuk mendampingi lagu demi lagu yang akan di kumandangkan. Begitulah selintas bayangan seragam merah putih itu. Dan akulah gadis kecil itu. Salah satu tulang punggung bangsa ini.

***

Seragam merah putih yang lengkap dan bersahaja itu kini juga digunakan seluruh anak-anak sampai di daerah pedalaman. Lima belas tahun berlalu sejak saya menanggalkan seragam merah putih. Kini saya mendapat pengalaman dari satu tempat ke tempat lain di daerah yang cukup terisolasi di pedalaman Kalimantan Tengah. Sisi lain dari tulang punggung bangsa ini yang berjuang mendapatkan ilmu.

Anak-anak ini menggunakan seragam seadanya, kemeja putih dengan bawahan merah. Tanpa sepatu, tanpa tas, tanpa dasi dan pita-pita merah putih seperti yang pernah saya kenakan. Tanpa buku pelajaran yang lengkap dan jam pelajaran yang penuh. Tak ada ekstrakurikuler, perpustakaan apalagi gedung sekolah yang penuh fasilitas. Hanya ada beberapa kelas, lapangan upacara/olah raga dan beberapa guru honorer.

Read the rest of this entry »





Potret Transmigran: Menuai Hasil Bumi di Tanah Borneo

16 08 2011

oleh: Tira Maya Maisesa

Tahun 1986, setelah menempuh perjalanan panjang yang melelahkan dengan kapal tongkang, 42 kepala keluarga yang berasal dari Semarang akhirnya menjejakkan kaki di muara Sebangau, wilayah paling selatan Kalimantan Tengah. Hari masih dini, langit masih gelap hanya beberapa titik dipenuhi temaram lampu seperti beberapa pos logpond dan bansaw. Mereka mengira tempat baru itu pasti ramai. Ketika subuh tiba, matahari mulai membagikan cahayanya, sekelompok transmigran ini menyadari bahwa sekeliling mereka hanyalah hutan rawa berair hitam. Beberapa ibu dan anak menangis. Beberapa petugas mengundi jatah pembagian rumah, kemudian masing-masing kepala keluarga membaur mencari rumah-rumah kayu yang hanya nampak atapnya saja, rumah yang sudah dibangun telah diselimuti semak belukar.

Keluarga-keluarga ini bertolak dari Tanjung Mas tanpa membayangkan seperti apa tanah Borneo. Mimpi mereka pasti tanah baru yang menjanjikan kehidupan yang lebih baik. Merekalah sekelompok kecil diantara sekian juta penduduk yang mengikuti program transmigrasi, program ambisius yang bertujuan memberikan lahan bagi mereka yang tidak memilikinya. Di daerah tujuan ini, para transmigran memperoleh rumah dan lahan berukuran 1 hektar lebih yang hasilnya dapat dinikmati sepenuhnya. Terlebih lagi, jaminan hidup selama dua tahun serta peralatan pertanian diberikan cuma-cuma sebagai subsidi dari pemerintah.

Bermimpi mendapat lahan dan bertani member tantangan besar bagi para transmigran. Terbiasa dengan tanah Jawa yang subur berkat gunung berapinya, siapa sangka pindah di tengah hutan belantara yang penuh rawa gambut. “Ketika itu tidak sedikit transmigran yang kembali lagi ke Jawa karena menganggap tidak mungkin membuat pertanian di hutan seperti ini”, kenang Edi, salah satu transmigran dari Semarang.

Read the rest of this entry »





potret

5 08 2011
Landscape
antara Ekonomi dan Ekologi
Lokasi: Kab. Katingan, Kalimantan Tengah

(c) Tira Maya Maisesa/WWF-Indonesia

Peranti Nelayan
Lokasi: Taman Nasional Sebangau, Kab. Pulang Pisau, Kalimantan Tengah

(c) Tira Maya Maisesa

Fauna
Bekantan si Bule
Lokasi: Pagatan, Kab. Katingan, Kalimantan tengah, Selatan TN. Sebangau

(c) Tira Maya Maisesa/WWF-Indonesia

Human Interest
Telinga Panjang Terakhir
Lokasi: Desa Tumbang Jojang, Kab. Murung Raya, Kalimantan tengah

(c) Tira Maya Maisesa/WWF-Indonesia





Paradoks Pulau ini

9 06 2011

Bagai itik berenang yang mati kehausan: sebuah refleksi Hari Lingkungan Hidup

Di muat pada kolom opini Harian Kalteng Pos Hal 11, Kamis 9 Juni 2011 Oleh: Tira Maya Maisesa – WWF-Indonesia

Perjalanan mobil 4WD kami telah melintasi pegunungan menuju hulu pulau Kalimantan. Perut terasa lapar, dan kami membayangkan ikan sungai bakar sesampai di desa hulu Kahayan. Karena kemalaman, saya transit di Tewah, Kab. Gunung Mas. Tergoda dengan dagangan di pasar, melihat sayur-sayuran dan ikan-ikan besar berjejer.
“Dari mana asal ikan ini?”, tanya saya.
“Dari Palangka Raya, tapi dikirim menggunakan box es, jadi ikannya masih segar”, kata Acil pedagang pasar.
“Disini kan juga aliran tengah sungai Kahayan, seharusnya bisa mendapat ikan, kenapa jauh-jauh di suplai dari bawah Cil?”, tanya saya berlanjut.
“Disini sampai hulu sana sudah ga ada ikan ding ai”, jawab Acil.

Read the rest of this entry »





orangutan, kenapa begitu unik?

9 04 2011

Komposisi tubuh seperti manusia, berbulu lebat, berwarna coklat, bermulut moncong, berjalan lambat, ya inilah ORANGUTAN. Karakter biologi satwa yang hanya ditemui di daratan Borneo dan Sumatra ini punya kemiripan dengan manusia, DNA-nya 97% sama dengan manusia. Jangan sampai orang Indonesia sendiri tidak tau keunikan satwa yang bermukim di negara kita ini karena perlu diketahui bahwa orangutan satu-satunya kera besar yang hidup di Asia.

Sementara tiga kerabatnya, yaitu; gorila, simpanse, dan bonobo hidup di Afrika. Cerita punya cerita dari perkiraan beberapa ahli, sekitar 20.000 tahun yang lalu orangutan juga ada di seluruh Asia Tenggara, dari Pulau Jawa di ujung selatan sampai ujung utara Pegunungan Himalaya dan Cina bagian selatan. Akan tetapi, saat ini jenis kera besar itu hanya ditemukan di Sumatera dan Borneo, 90% berada di Indonesia.

Pertama melihat orangutan liar ketika saya mengunjungi Taman Nasional Sebangau, tepatnya di sungai Punggualas, Desa Keruing, Kec. Kamipang, Kab. Katingan, Kalimantan Tengah. Taman Nasional ini rumah bagi 6000-9000 orangutan liar yang masih hidup merdeka. Besarnya bisa 4 kali tubuh saya, mungkin beratnya mencapai 200 kg, ada gelambir di lehernya, wajahnya sudah nampak tua, bertengger diatas ranting pohon berdiameter 30-40 cm. Karena pertama kali melihat, saya jadi sangat tegang, karena dia sepertinya menyadari keberadaan kami. Matanya sesekali mengamati kami yang asyik memotret dia dari jarak 6 meter, sambil menunjukkan ketidaknyamanannya, dia melemparkan ranting ranting kecil yang ia patahkan. Tetapi tentu saja kami tau bahwa daya gerak orangutan sangat lambat, sehingga tidak mungkin dia bisa mendatangi kami dalam jarak 6 meter dengan cepat. Setelah menyadari bahwa dia ingin sendiri, perlahan kami menjauhinya sambil mengucapkan “terima kasih” karena sudah bisa mengamati hewan langka ini.

Read the rest of this entry »








Follow

Get every new post delivered to your Inbox.