Menanti Bumi Tambun Bungai Hijau Kembali (2)

4 02 2010

Dimuat pula pada rubrik Opini Harian Kalteng Pos Kamis, 4 Februari 2010, hal. 27

oleh: Tira Maya Maisesa

Hal ini terjadi karena perubahan paradigma, kebiasaan masyarakat mulai bergeser dari membakar secara hati-hati menjadi membakar sesukanya. Luas lahanpun semakin besar, jika dulu masyarakat ladang berpindah hanya menggunakan lahan kurang dari 2 hektar, kini lebih dari 10 hektar dibakar untuk menjadi lahan perkebunan. Pergeseran terjadi karena putusnya pengetahuan turun menurun tersebut. Semenjak perusahaan masuk, masyarakat diajarkan teknik membakar yang berbeda dengan teknologi serta iming-iming untung yang besar, mereka kemudian terbiasa merasakan “uang panas” tanpa memperhitungkan akibatnya.

Bagaimanapun tidak dapat disangkal bahwa faktor yang menyebabkan degradasi hutan di Indonesia pada umumnya dan Kalimantan pada khususnya berkaitan dengan praktek pembangunan yang tidak berkelanjutan. Penebangan secara besar-besaran, pembukaan lahan untuk perkebunan & pertanian dan pertambangan besar menjadi penyebab berkurangnya fungsi hutan sebagai penyeimbang alam. Masyarakat sekitar mulai termusuhi oleh alam, seolah alam berdemo menentang eksploitasi lingkungan yang menghilangkan keharmonian antara kedua unsur ciptaan Tuhan: manusia dan alam.

Read the rest of this entry »





Menanti Bumi Tambun Bungai Hijau Kembali (1)

3 02 2010

Dimuat pada Kalteng Pos Rabu, 03 Februari 2010 pada kolom opini Hal. 27

Oleh    : Tira Maya Maisesa

Mega Rice Project atau dikenal dengan proyek lahan gambut sejuta hektar untuk sawah padi di Kalimantan Tengah menyisakan bentang rawa tak ber-andil. Lebih dari 2 triliun rupiah APBN dan dana reboisasi di era orde baru kala itu tersedot untuk mewujudkan mimpi membangun lumbung padi 5 juta ton beras pertahun dari 200.000 kepala keluarga yang mendiami areal tersebut (Walhi, 1999). Pada masa itu, areal pertanian di Jawa tidak lagi mampu menampung kebutuhan dalam negeri maupun ekspor, disisi lain kepemimpinan Soeharto kala itu ingin meraih kembali predikat swasembada beras yang pernah dicapainya di era 1980-an.

Ex. Mega Rice Project (c) Tira Maya Maisesa/WWF-Indonesia

Anehnya, proyek besar ini tidak dilakukan uji coba analisis dampak lingkungan sebelumnya. Tampak sekali ada kepentingan politis dan bisnis yang tak sabar meraih keuntungan pribadi maupun kelompok. Sementara para akademisi dan aktivis LSM berkoar-koar menentang proyek ini, para pemegang kepentingan terus berpinggang tangan memaksakan pertanian tersebut. Kepentingan politis berdasar atas akan diadakannya Pemilu 1997 kala itu, dengan adanya janji manis lahan sejuta hektar bagi masyarakat lokal dan transmigran dapat meraih simpati masyarakat pada pemerintah dimasa itu. Sedangkan para kepentingan bisnis berburu meraih keuntungan besar dari penyediaan alat berat, penyediaan jasa konsultan dan penurunan kredit pinjaman luar negeri.

Yang paling menyedihkan yaitu pengetahuan masyarakat lokal dalam mengelola gambut diabaikan dalam proyek Mega Rice. Proyek ini dibangun tanpa perhitungan bahkan kajian yang mendalam. Orang-orang serakah dibalik proyek ini mengabaikan kondisi gambut, iklim, serta keberagaman flora dan fauna yang ada didalamnya. Dan gambut semakin terkoyak-koyak oleh tangan-tangan besi yang ingin meraup banyak keuntungan.

Belum berjalan 2 tahun, proyek tersebut mulai menunjukkan kegagalannya. Gejala degradasi mulai timbil akibat penggalian saluran yang berlebihan dan tidak terkontrol sehingga terjadi drainase yang berlebihan. Akibat kekeringan gambut berimbas pada kebakaran sepanjang tahun di Kalimantan Tengah pasca 1995. Dilaporkan 1, 45 juta hektar lahan gambut di Indonesia rusak akibat kebakaran (Muhammad, 2000).

Pada dasarnya masyarakat asli dayak memiliki pengetahuan lokal yang baik dalam mengelola hutan dan lahan. Kegiatan membuka lahan dengan membakar hutan sesungguhnya adalah tradisi turun temurun para peladang berpindah masyarakat pribumi. Ratusan tahun orang-orang pedalaman terbiasa membuka ladang dengan membabat maupun membakar. Namun selama itu pula mereka hidup serasi berdampingan dengan alam. Mereka adalah fire brigade terbaik, buktinya kala itu tidak pernah terjadi kebakaran seperti yang dialami dekade ini.

(bersambung..)





Radio Komunitas “Asbun“, (Bukan) ASal BUNyi

28 01 2010

(c) Tira Maya Maisesa/WWF-Indonesia

Gelombang teknologi informasi yang terus bertambah dan meluas di sebagian besar daerah di Indonesia ternyata tak membawa pengaruh signifikan di Desa Baun Bango dan sekitarnya. Letaknya berada dalam pusat Kecamatan Kamipang tujuh puluh kilometer arah selatan Kasongan, Kabupaten Katingan. Pemukiman kecil yang tinggal disepanjang sungai Katingan ini jauh dari kemakmuran, suasananya begitu sepi dan minim arus informasi dari luar. Akses listrik begitu sulit, hanya dapat dinikmati dimalam hari, terlebih dibeberapa desa tetangga yang hanya berharap pada mesin diesel.

“Saya ingin menjadikan masyarakat disini lebih maju”, sahut Erwan seorang pria asli Tulungagung yang sempat menjadi penyiar dibeberapa radio. Setelah bertahun-tahun menetap di Kalimantan, pria berkumis tipis ini menikahi wanita asli Dayak di desa Baun Bango yang sama-sama menyukai dunia penyiaran radio. Dasar pengetahuan tentang elektronik yang dimiliki Erwan memacunya mendirikan radio kecil di pedalaman Sebangau.

Read the rest of this entry »





Sensitif Gender dalam Pembangunan Berkelanjutan

28 10 2009

Diterbitkan pula di kolom Opini Kalteng Pos, 26-28 Oktober 2009 hal. 27

 

Pembangunan berkelanjutan menjadi harapan konsep yang ideal di era 21 ini. Wacana ini semakin sering di dengung-dengungkan seiring dengan isu pemanasan global dan lingkungan yang semakin rusak. Pembangunan berkelanjutan cenderung mengkritisi pembangunan ortodoks yang justru mengorbankan banyak aspek baik sosial maupun lingkungan. Dalam konsep ini tidak hanya mengkaitkan masalah ekologi, tetapi juga ekonomi dan keseimbangan sosial.

Pembangunan berkelanjutan didefinisikan sebagai pembangunan yang sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan saat ini tanpa mengkompromikan kemampuan generasi yang akan datang dengan menyesuaikan kebutuhan-kebutuhan mereka (World Commission in Environment and Development:1987).  Dengan kata lain, pembangunan berkelanjutan memaparkan suatu pembangunan untuk kebutuhan generasi saat ini dengan tetap tidak mengabaikan kebutuhan generasi yang akan datang. Maka tiga elemen yaitu manusia, alam dan sumberdaya ekonomi menjadi prioritas dalam pembangunan berkelanjutan.

Read the rest of this entry »





ideologi feminisme

26 10 2009

Bicara tentang feminism memang banyak menimbulkan pro dan kontra di negara-negara dunia ketiga pada umumnya. Aliran yang berakar dari liberalism ini semata di cap sebagai aliran westernisasi, sehingga beberapa negara yang anti barat cenderung melawan aliran ini. Padahal intisel dari lahirnya ideology ini adalah perjuangan Hak Asasi Manusia baik itu kebebasan dan kemerdekaan pribadi. Seiring gigihnya perjuangan sejak abad ke-18, gerakan feminism mulai berhasil menyentil setiap aspek kehidupan saat ini.

Read the rest of this entry »





data terbaru greenpeace

20 10 2009

Menurut Greenpeace, total emisi gas rumah kaca dari lahan gambut Indonesia adalah sekitar 1,8 milyar ton per tahun atau 4% dari emisi global