Sensitif Gender dalam Pembangunan Berkelanjutan

28 10 2009

Diterbitkan pula di kolom Opini Kalteng Pos, 26-28 Oktober 2009 hal. 27

 

Pembangunan berkelanjutan menjadi harapan konsep yang ideal di era 21 ini. Wacana ini semakin sering di dengung-dengungkan seiring dengan isu pemanasan global dan lingkungan yang semakin rusak. Pembangunan berkelanjutan cenderung mengkritisi pembangunan ortodoks yang justru mengorbankan banyak aspek baik sosial maupun lingkungan. Dalam konsep ini tidak hanya mengkaitkan masalah ekologi, tetapi juga ekonomi dan keseimbangan sosial.

Pembangunan berkelanjutan didefinisikan sebagai pembangunan yang sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan saat ini tanpa mengkompromikan kemampuan generasi yang akan datang dengan menyesuaikan kebutuhan-kebutuhan mereka (World Commission in Environment and Development:1987).  Dengan kata lain, pembangunan berkelanjutan memaparkan suatu pembangunan untuk kebutuhan generasi saat ini dengan tetap tidak mengabaikan kebutuhan generasi yang akan datang. Maka tiga elemen yaitu manusia, alam dan sumberdaya ekonomi menjadi prioritas dalam pembangunan berkelanjutan.

Read the rest of this entry »





ideologi feminisme

26 10 2009

Bicara tentang feminism memang banyak menimbulkan pro dan kontra di negara-negara dunia ketiga pada umumnya. Aliran yang berakar dari liberalism ini semata di cap sebagai aliran westernisasi, sehingga beberapa negara yang anti barat cenderung melawan aliran ini. Padahal intisel dari lahirnya ideology ini adalah perjuangan Hak Asasi Manusia baik itu kebebasan dan kemerdekaan pribadi. Seiring gigihnya perjuangan sejak abad ke-18, gerakan feminism mulai berhasil menyentil setiap aspek kehidupan saat ini.

Read the rest of this entry »





data terbaru greenpeace

20 10 2009

Menurut Greenpeace, total emisi gas rumah kaca dari lahan gambut Indonesia adalah sekitar 1,8 milyar ton per tahun atau 4% dari emisi global





potret perempuan miskin

18 10 2009
(c) Ujel bausad/WWF-Indonesia

(c) Ujel bausad/WWF-Indonesia

Dibawah terik matahari, seorang perempuan berusia 30-an menarik-narik setiap helai rotan dari pohonnya. Dia mengupas perlahan-lahan duri rotan tersebut menggunakan kait pisau, kemudian helai-helai rotan yang ditarik satu persatu tadi dikumpulkan, diikat setiap 200 helainya, kemudian diangkat dari dalam hutan dan di bawa ke sungai untuk direndam. Rotan tersebut harus selalu lembab/kondisi tidak boleh kering agar tidak sulit saat dianyam.

“Saya mencari rotan ini seharian memasuki danau purun dekat hutan Sebangau, menarik setiap helai rotan yang sangat banyak pohonnya”, Siti Elpimah, seorang ibu berusia 35 tahun dan tinggal di desa Tumbang Ronen di Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah, Indonesia hanya bisa menggigit jari menerima Rp. 16.000,- dari satu ikat rotan (kurang lebih 200 helai) dari pemberi upah yang mengambil rotan-rotan dari masyarakat setiap sebulan dua kali didesanya. Dia bekerja ditanah bergambut dari pagi hingga siang, kadang sampai sore hari. Tapi uang yang mereka peroleh tak menentu, bahkan cenderung merosot.

Read the rest of this entry »





the Story of Sebangau

12 10 2009

Hi, welcome to Sebangau National Park.
±568.700 hectares  are the remaining of peat swamp forest in Central Kalimantan, riches of biodiversity, the biggest orang utan population in the world, the fact story of deforestation and poverty communities around it.

the Natural Sebangau
It is located between Katingan river and Sebangau river in Central Kalimantan, South Borneo. Administratively, Sebangau National Park is a part of Katingan District, Pulang Pisau District, and Palangka Raya Municipality. This forest has a unique characteristic such as lowland, peat land, black water, orang utans, nephentes, Malayan sunbear, spoon soil, etc. There are facing of Borneo, the biggest island in the world. The loss Atlantic 11.000 year before.  Not only beautiful natural of Sebangau inside, but also local wisdom around forest. Dayak’s ethnis depend on natural resources. Fisheries, tribe, and economic potencies are there.

sebangau
Based on CIMTROPs data, there are 150 species of birds , 34 species of fish and 35 species of mammals, and 808 species flora (WWF & LIPI 2007). Orang utan is endangered species in the world. There are 6000-9000 individuals orang utans inside of the forest. Based on DNA analyses, orang utans share around 97% of their genome (hereditary information that is encoded in DNA) with humans. Orang utan are highly dependent on rainforest, the species can be used as a “barometer” of rainforest health, specifically in terms of biodiversity. Therefore, orang utans can be treated as umbrella species for tropical rainforest conservation.

I will have told you fact story of deforestation in Sebangau, encroachment at the buffer zone, climate change, poverty and conservation action. See you at the next page!





Canal Blocking on Sebangau Peat land Ecosystem

11 10 2009

Peat land forests have been significantly degraded as a result of forest exploitation conducted in the past such as the one million mega rice project in Central Kalimantan. In 1995, canals were built in the area to extract the illegally logged timber out of the forest. The forest was also severely affected by fires. Based on remote sensing survey analyses in 2006, the area of deforestated land which was affected by fire and illegal logging activity was 66.000 ha.
Canal blocking is a way to leverage the ground water level and preserve the water in the dry season. This method moistens  the soil and prevents forest and land fire. This method also encourages natural revegetation around the dam.

Canal Blocking at Bangah River (c) Tira Maya Maisesa

Canal Blocking at Bangah River (c) Tira Maya Maisesa

Canal Blocking Steps:
1.    Remote Sensing Data Identification
2.    Survey and Ground Truthing
Second step is to conduct baseline surveys to verify remote sending data and models.

Read the rest of this entry »