Lidah Buaya Gambut dari Sebangau


Lahan gambut Kalimantan ternyata menyimpan potensi budidaya tanaman lidah buaya yang bermanfaat dan memiliki khasiat tinggi. Mulai dari kosmetika, makanan dan minuman ringan, kesehatan hingga minuman penghilang stres berupa teh. Tanaman yang berasal dari kepulauan Canary, Afrika Selatan yang sudah tersebar di wilayah tropis termasuk Indonesia ini memang tak asing lagi bagi banyak orang. Batang tanaman yang pendek dengan daun berduri dipinggir seperti tombak yang berdiri tegak ini termasuk dalam genus Liliacieae, dengan kekayaan spesies hingga 200 jenis.

Aloe Vera Raksasa sebesar tubuh saya :)

Aloe Vera Raksasa sebesar tubuh saya :)

Sungguh merupakan jenis aloe vera yang jarang kita temui di pulau Jawa, lidah buaya di lahan gambut Kalimantan ukuran daunnya bisa mencapai selebar telapak tangan orang dewasa. Menurut penelitian, lidah buaya dapat berproduksi secara optimal dalam ketinggian 200-700 m dpl, dengan sinar matahari penuh (iklim panas) dan kelembaban cukup tinggi (± 25-33° C), dengan curah hujan berkisar 2500-4000 mm/tahun. Karena kondisi yang mendukung ini serta perawatan dengan pupuk organik menyebabkan tanaman lidah buaya di Sebangau, Kalimantan Tengah lebih besar secara ukuran dari jenis lainnya. Petani hanya perlu menunggu selama sembilan bulan untuk memperoleh panennya.

Ironisnya, kesadaran warga Kalimantan Tengah terhadap khasiat lidah buaya untuk di konsumsi belum dirasakan. Petani dan distributor lidah buaya belum mendapatkan keuntungan ekonomis dari manfaat lidah buaya ini. Berikut kisah kemandirian seorang petani Pak Sunaryo dalam memasarkan produk lidah buaya yang mungkin patut diteladani.

Sepetak Pohon Lidah Buaya Pak Sunaryo

Di senja hari, seorang pria setengah baya berkulit sawo matang dengan keramahannya menyapa kehadiran kami (tim redaksi-red) dirumahnya yang sederhana. Sekitar satu meter di belakang pondoknya terhampar sebalur tanaman lidah buaya sebanyak 50 pohon dengan tinggi masing-masing kurang lebih 40cm.

Dimulai tahun 2005, saat WWF menginisiasi budidaya aloe vera dalam upaya peningkatan perekonomian masyarakat di wilayah Taman Nasional Sebangau, pria berdarah jawa ini ikut menanam tumbuhan berkhasiat ini, “Saya awalnya ingin mengolah saja, biar yang menanam kelompok tani, waktu itu saya bermimpi untuk memasarkannya sampai keluar kota, namun sumber daya manusia kita kalah dengan orang Pontianak, dua tahun ini kami memproduksi dodol, dawet, minuman aloe vera dan teh tetapi kurang banyak permintaan pasar”, keluh bapak yang juga menjabat sebagai kepala desa Sebangau Permai ini.

Kendati demikian, usaha pak Sunaryo untuk memperkenalkan produk lidah buaya tidak berakhir begitu saja. “Syukurlah suatu kali pemerintah kabupaten meminta produk ini untuk diperkenalkan dalam pameran pembangunan daerah. Sejak itu setiap tahun mereka memesan teh aloe vera dan dodol saya. Berbagai hal yang terkait teknologi pertanian pasti menggunakan produk lidah buaya saya”, utasnya lebih optimis.

Suatu ketika bapak seorang putri ini memberanikan diri berangkat ke Palangkaraya untuk memperkenalkan lidah buayanya. Perjalanan selama satu hari dengan bis air dari Sebangau Kuala menuju Palangkaraya memang tidak sebentar, tapi demikian spirit ketekunan yang dimiliki Pak Naryo, demikian beliau biasa di panggil. “Saya pernah bertanya ke beberapa warung es di Palangkaraya apakah menyediakan es lidah buaya, tapi hampir tidak ada yang menyediakannya. Hanya satu warung es bernama Es Nona yang menjualnya, selidik demi selidik ternyata pemiliknya seorang yang berasal dari Pontianak. Maka saya mulai menawarkan bahan baku es aloe vera”, ceritanya di awal negosiasi dengan warung es ini.

Pertemuan di tahun 2006 itu menjadi awal kerjasama mandiri Pak Sunaryo dan Warung Es Nona. Dengan permintaan awal sebesar 50 kilo dijual seharga Rp. 5000/kilo. Kini genap dua tahun beliau rutin mendistribusikan pelepah daun lidah buaya pada Es Nona. Mengingat jarak dan telekomunikasi yang sulit terjangkau, Es Nona selalu menghubungi pak Naryo seminggu sebelumnya jika bahan baku mau habis. “Sejauh ini permintaan tergantung kebutuhan terkadang 30-60 kilo setiap bulannya bahkan sering kali saya kasih bonus menjadi 85 kilo”, ujarnya dengan penuh semangat.

Keuntungan dari pemasaran lidah buaya ini memang tidak sebesar yang di harapkan, namun semangat Pak Naryo dalam memperkenalkan produk lidah buaya dari desa nan jauh di wilayah Sebangau cukup membanggakan. Beliau mensiasati pendistribusiannya dengan menitipkannya pada adiknya yang kuliah di Palangkaraya untuk disalurkan ke Es Nona. Bahan baku dititipkan melalui bis air Tirtowangi seharga Rp. 20.000,- sampai ke Pelabuhan Kereng Bangkirai dan bensin Rp. 50.000,- untuk kendaraan bermotor.

“Dengan demikian sekali pemasukan (tiap bulan) kurang lebih Rp. 250.000,- (5000 x50 kilo) dari hasil penjualan pelepah tersebut dikurangi biaya transportasi maka keuntungan saya kurang lebih Rp. 150.000-170.000/bulan untuk satu balur pohon lidah buaya itu”, jelasnya.

Es Aloe Vera satu-satunya di Palangkaraya

Nikmati Kesegarannya di Jln. Tjilik Riwut, Palangkaraya

Nikmati Kesegarannya di Jln. Tjilik Riwut, Palangkaraya

Warung es dipinggir jalan Tjilik Riwut yang berdiri 2 tahun lalu dikelola seorang wanita asli Pontianak yang pandai mengolah berbagai es termasuk sajian es lidah buaya. Bu Maria, demikian nama pemilik Es Nona, mula-mula membeli bahan baku aloe vera langsung dari Pontianak. Harga bahan baku yang mahal bahkan mencapai belasan kali lipat membuat beliau merugi dalam memproduksi es ini.

“Sejak pertemuan dengan Bapak Sunaryo saya mulai berani lagi memproduksi es Aloe vera. Waktu itu pak Sunaryo datang kesini menanyakan dari mana asal bahan lidah buaya kami, kemudian beliau menawarkan lidah buayanya yang katanya dari Sebangau. Saya bersyukur karena ternyata ada petani yang menanam lidah buaya dengan kualitas sama bagusnya dengan di Pontianak”, tukas ibu berkulit putih ini berkisah.

Banyak orang mempertanyakan bagaimana cara wanita yang juga rutin mengkonsumsi minuman lidah buaya ini mengelola es aloe vera. Kebanyakan orang sangsi bahwa rasanya pasti pahit, “Rasanya tidak akan pahit kalau mencucinya dengan benar. Resepnya juga sangat sederhana, setelah dicuci, aloe vera di rebus sebentar, kemudian ditaruh air gula dan di rendam. Saat ini saya sedang bereksperimen membuat pengembangan berbahan baku lidah buaya seperti pudding aloe vera dan es cocktail lidah buaya”, ujar pemilik warung es lidah buaya satu-satunya di kota Palangkaraya ini.

Dengan harga Rp. 5000,- /gelas banyak anggota polisi yang kerap rajin memesan aloe vera disini. Beberapa pengunjung putri juga suka memesan karena aloe vera ini baik untuk kulit. Namun, dibanding presentasi pengunjung lainnya, belum banyak yang mengenal es aloe vera ini, “Saya melihat orang palangkaraya belum mengenal lidah buaya sebagai minuman, pandangan mereka khasiat tumbuhan ini hanya untuk rambut saja, saya berharap pelan-pelan orang menyadari pentingnya lidah buaya bagi kesehatan kita”.(tr)

About tira

about me? please visit http://about.me/tira
This entry was posted in Nature & Conservation, Sebangau Forest and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s