Potret Transmigran: Menuai Hasil Bumi di Tanah Borneo

16 08 2011

oleh: Tira Maya Maisesa

Tahun 1986, setelah menempuh perjalanan panjang yang melelahkan dengan kapal tongkang, 42 kepala keluarga yang berasal dari Semarang akhirnya menjejakkan kaki di muara Sebangau, wilayah paling selatan Kalimantan Tengah. Hari masih dini, langit masih gelap hanya beberapa titik dipenuhi temaram lampu seperti beberapa pos logpond dan bansaw. Mereka mengira tempat baru itu pasti ramai. Ketika subuh tiba, matahari mulai membagikan cahayanya, sekelompok transmigran ini menyadari bahwa sekeliling mereka hanyalah hutan rawa berair hitam. Beberapa ibu dan anak menangis. Beberapa petugas mengundi jatah pembagian rumah, kemudian masing-masing kepala keluarga membaur mencari rumah-rumah kayu yang hanya nampak atapnya saja, rumah yang sudah dibangun telah diselimuti semak belukar.

Keluarga-keluarga ini bertolak dari Tanjung Mas tanpa membayangkan seperti apa tanah Borneo. Mimpi mereka pasti tanah baru yang menjanjikan kehidupan yang lebih baik. Merekalah sekelompok kecil diantara sekian juta penduduk yang mengikuti program transmigrasi, program ambisius yang bertujuan memberikan lahan bagi mereka yang tidak memilikinya. Di daerah tujuan ini, para transmigran memperoleh rumah dan lahan berukuran 1 hektar lebih yang hasilnya dapat dinikmati sepenuhnya. Terlebih lagi, jaminan hidup selama dua tahun serta peralatan pertanian diberikan cuma-cuma sebagai subsidi dari pemerintah.

Bermimpi mendapat lahan dan bertani member tantangan besar bagi para transmigran. Terbiasa dengan tanah Jawa yang subur berkat gunung berapinya, siapa sangka pindah di tengah hutan belantara yang penuh rawa gambut. “Ketika itu tidak sedikit transmigran yang kembali lagi ke Jawa karena menganggap tidak mungkin membuat pertanian di hutan seperti ini”, kenang Edi, salah satu transmigran dari Semarang.

Awalnya, kehidupan transmigran ini nampaknya tidak mudah. Sedikit demi sedikit, berkat kerja keras, keluarga transmigran dapat berswasembada. Desa yang disebut desa Mekar Tani, Kec. Mendawai kini mencapai 256 KK berkat pembinaan intensif, hasil produksi bisa memenuhi kebutuhan keluarga, kesehatan penduduk membaik, anak-anak bisa sekolah dan wilayah yang baru dibuka berubah menjadi desa yang ramai. Orang-orang menyebutnya daerah “Trans”, label tempat bagi desa baru yang ditempati para transmigran.

***

Dewasa ini, lebih dari enam juta orang telah mengikuti program transmigrasi. Usia program transmigrasi di Indonesia menginjak 57 tahun. Tapi sama halnya dengan bangsa ini, pengelolaan transmigrasi pun belum akan luput dari masalah. Padahal tujuan transmigrasi untuk memobilisasi penduduk akan kekurangan di satu daerah ke tempat tujuan yang menjanjikan kehidupan lebih baik dan manusiawi. Bukan hanya itu, program transmigrasi juga diarahkan untuk mempercepat pembangunan pedesaan dan peluang untuk perluasan kesempatan kerja.

Tahun 1980, ketika lonjakan penduduk terjadi di pulau Jawa. Berbondong-bondong masyarakat yang difasilitasi oleh pemerintah melakukan migrasi secara masal. Program ini dikenal dengan transmigrasi. Tujuan resmi program ini adalah untuk mengurangi kemiskinan dan kepadatan penduduk di pulau Jawa, memberikan kesempatan bagi orang yang mau bekerja, dan memenuhi kebutuhan tenaga kerja untuk mengolah sumber daya di pulau-pulau lain seperti Papua, Kalimantan, Sumatra, dan Sulawesi. Di Sumatra, tiga perempat dari mereka menilai bahwa taraf hidup mereka meningkat dibanding dengan sebelum keberangkatan mereka. Mereka yang merasa bahwa penghasilan tidak meningkat, tetap lebih menyukai kehidupan yang baru. Alasannya karena sekarang mereka memiliki rumah dan lahan untuk keluarga, sekolah untuk anak-anak dan jaminan kesehatan publik untuk keluarga. Apakah demikian terjadi juga di Kalimantan Tengah?

***

Transmigrasi di Kalimantan Tengah dimulai sejak 1968 di Basarang dan Mentangai (Kabupaten Kapuas). Sekarang, daerah transmigrasi tersebut bahkan sudah ada yang menjadi kabupaten, seperti Kabupaten Lamandau, Sukamara, dan Pulang Pisau. Tapi, tidak dapat dipungkiri, dalam penyelenggaraannya masih banyak lokasi transmigran lain yang memiliki kendala, bahkan terkesan sebagai program pemindahan kemiskinan semata. Kalaupun yang dinilai sukses, barangkali hanya transmigran di Kalampangan, Palangka Raya dan Basarang (Kapuas). Mereka telah mampu menikmati hidup layak dari hasil peternakan dan pertanian.

Berbeda dengan nasib daerah transmigran di sekitar Taman Nasional Sebangau. Nasib mereka bisa dikatakan mati segan hidup tak mampu. Setelah mengalami banjir selama 3 bulan di awal 2010, masyarakat di kecamatan Sebangau Kuala banyak yang migrasi ketempat lain. Lahan pertanian mereka rusak, kebun karet terbakar dan kini mereka memulai semuanya dari awal. Demikian pula masyarakat di kecamatan Mendawai, meski di awal migrasi tahun 1986 sempat mendapatkan penghargaan sebagai daerah trans terbaik oleh Bupati Kotawaringin Timur, kini ancaman kebakaran selalu mengkhawatirkan setiap petani. Ya, tinggal di daerah yang rawan karena eksploitasi hutan di masa lalu meninggalkan sejumlah masalah bencana.

“Di sini, dulu tanam singkong pohonnya bisa hidup subur. Setelah sepuluh tahun sepertinya tanah disini perlu perlakuan khusus karena unsur hara sudah habis, sehingga pupuk harus mulai dipakai. Tanah ini sering kena api/bakar maka unsur hara itu akan mati, apalagi gambut yang susah dipadamkan apinya.”, kata Edi, kepala Desa Mekar Tani.

“Sejak seringnya terjadi kebakaran tahun 2002, disini hampir mengalami perang saudara karena lahannya banyak terbakar. Saat itu saya mengumpulkan masyarakat, saya bikin PerDes jangan sampai masyarakat disini membakar secara asal, dengan batasan membakar 1 hektar dan masing-masing penjuru harus dikabari lahan lain. Sejak itu, desa kami aman dari api bahkan kebakaran 2006 tak ada kebakaran lagi”, kata Edi.

Petani juga menyadari bahwa jaman sekarang musim sudah tak bisa diprediksi, itu yang menyebabkan mereka beberapa kali gagal panen.  “Selama 4 tahun berturut-turut kami mengalami gagal panen karena hama tikus dan babi, serta iklim kemarau yang jarang datang”.

“Sekarang iklim yang tak menentu, tetapi kami akan tetap menanam. Meski ada penghasilan (panen), pertanian disini susah dipasarkan, setidaknya hasil bumi kami konsumsi sendiri”, begitu keluhnya.

***

Berbeda dengan Basarang dan Kalampangan, daerah ini tersohor sebagai kawasan percontohan pertanian lahan gambut yang terbilang sukses di Kalimantan Tengah. Ternyata, sukses tidaknya program transmigrasi tidak ditentukan usianya, tapi perencanaan dan pelaksanaannya. Ada jaminan pelayanan pendidikan, kesehatan, petugas pelayanan di lapangan, serta terlaksana hak dan kewajiban sebagai masyarakat transmigran dan berada di jalur trans Kalimantan memudahkan akses mereka dalam memasarkan hasil bumi.

Tips sukses lainnya berkat keuletan mereka sebagai petani. Jaman dulu banyak yang bisa dikeluhkan saat lahan transmigrasi di Kalampangan itu baru dibuka. “Untuk pergi ke pasar di Palangkaraya, para petani Kalampangan tersebut harus berjalan kaki sejauh 20-30 kilometer”, kata Ayah Agus.  Petani senior yang awalnya menjadi transmigran awal banyak bereksperimen dengan membersihkan sisa-sisa kayu di lahan dan membolak-balik tanah gambut dengan cangkul. Mereka taburkan abu bakaran seresah di lahan gambut yang masam tersebut. Ini untuk memancing pertumbuhan bibit agar bagus. Kuncinya terus mengolah tanah garapan. Kotoran sapi dan ayam menjadi penambah kesuburan lahan. Menjadi transmigran sukses ataupun belum sukses diharapkan pemerintah tetap serius menjalankan program besar ini. Program yang menyangkut jutaan penduduk yang mencoba mengadu nasib. (tira)

Advertisement

Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Follow

Get every new post delivered to your Inbox.