Indonesia
Merah darahku, Putih tulangku bersatu dalam semangatku
Seragam merah putih mengingatkan saya pada seorang gadis kecil 15 tahun yang lalu. Dia menguncir rambutnya dengan pita merah putih di sebelah kanan dan kiri, berbaju putih kerah dengan pin berlogo Indonesia Merdeka, berdasi merah bertulis Tut Wuri Handayani, rok berlipat lipat berwarna merah, ikat pinggang hitam, tas mungil dipunggung, kaos kaki putih dengan sepatu pantovel hitam. Dia melangkah kecil namun penuh semangat berjalan kaki menuju sekolah didesanya SDN Mulyoagung 3, Dau, Kab. Malang, Jawa Timur. Hari itu adalah hari upacara memperingati Kemerdekaan Indonesia, anak kelas 6 dipercaya menjadi tim Paduan Suara yang siap menyanyikan lagu-lagu wajib dan kebangsaan. Beberapa dari mereka bersiap menjadi pasukan pengibar bendera, pemegang bacaan naskah proklamasi dan UUD 1945, satu orang menjadi komandan upacara dan Bapak Kepala Sekolah, Pak Tupanianto memimpin menjadi Inspektur upacara. Bu Narmi berada di samping tim Paduan Suara untuk mendampingi lagu demi lagu yang akan di kumandangkan. Begitulah selintas bayangan seragam merah putih itu. Dan akulah gadis kecil itu. Salah satu tulang punggung bangsa ini.
***
Seragam merah putih yang lengkap dan bersahaja itu kini juga digunakan seluruh anak-anak sampai di daerah pedalaman. Lima belas tahun berlalu sejak saya menanggalkan seragam merah putih. Kini saya mendapat pengalaman dari satu tempat ke tempat lain di daerah yang cukup terisolasi di pedalaman Kalimantan Tengah. Sisi lain dari tulang punggung bangsa ini yang berjuang mendapatkan ilmu.
Anak-anak ini menggunakan seragam seadanya, kemeja putih dengan bawahan merah. Tanpa sepatu, tanpa tas, tanpa dasi dan pita-pita merah putih seperti yang pernah saya kenakan. Tanpa buku pelajaran yang lengkap dan jam pelajaran yang penuh. Tak ada ekstrakurikuler, perpustakaan apalagi gedung sekolah yang penuh fasilitas. Hanya ada beberapa kelas, lapangan upacara/olah raga dan beberapa guru honorer.
Eskani Nani (12 tahun), Rasyid Imamsyah (10 tahun), Susianti (12 tahun), Karmila Sariasih (11 tahun) dan Recky (11 tahun) adalah anak-anak pedalaman yang berjuang meraih ilmu dengan segala keterbatasan pendidikan di desa Tumbang Topus, Murung Raya, Kalimantan Tengah. Desa ini lokasinya paling ujung yang berbatasan langsung dengan Kalimantan Timur. Beberapa kali masyarakat di desa ini disarankan untuk dipindahkan karena keterisolasian-nya tetapi mereka menolak. Dari desa terdekat, Tumbang Tujang saja harus di tempuh maksimal 2 hari melewati ganasnya sungai Barito, apalagi menuju ibukota Kabupaten, bisa 3-4 hari waktu yang ditempuh.
Jumlah guru hanya 8 orang, usianya rata-rata masih muda. Sebagian besar dari Palangka Raya, guru-guru yang baru lulus kuliah. Meskipun ada sekolah, sekolah-sekolah di pedalaman tidak menjalankan jam pelajaran yang padat seperti di kota. Mereka masuk pukul 8 pagi, tetapi pulang sekolah dengan waktu yang tak menentu, bisa pukul 10, ataupun pukul 12. Jumlah siswanya juga tidak menentu, bisa saja beberapa murid tidak sekolah selama beberapa bulan dan tiba-tiba ikut ujian umum. Bisa juga guru-guru yang kebetulan pulang ke Palangka Raya untuk ambil gaji melakukan absen berbulan-bulan mengajar.
Lima anak ini juga pelajar kelas 6 SD di desanya. Hanya ada lima pelajar dalam satu kelas, beberapa anak seusianya ada yang tidak meneruskan sekolah. Bukan karena biaya toh sekolah sekarang memang gratis, namun anak-anak di pedalaman ini harus membantu dan menemani orang tua mereka yang sebagian besar bekerja mencari wallet di gua, mengelola ladang yang lokasinya cukup jauh dari desa atau menjadi nelayan yang berminggu-minggu meninggalkan desa.
Ketika bermalam di sebuah logpond tua, saya bertemu dengan Parman (6thn), Mila (12thn), Frans (3thn) dan Siska (1thn). Mila si sulung menjaga adik-adiknya dan menetap sementara di logpond yang sudah lama ditinggal oleh karyawan HPH. Kedua orang tuanya setiap hari mencari ikan sebagai nelayan, berangkat subuh dan pulang di petang hari. Gadis cantik berkulit putih ini sudah nampak seperti seorang ibu yang menggendong dan memberi makan Siska, adiknya yang masih bayi. Ketika kelas 3 SD dia tidak lagi bersekolah, tidak lain karena beban yang harus dia emban sebagai seorang kakak yang harus menjaga ketiga adiknya. Miris rasanya melihat mereka yang begitu polos. Sedih karena sebenarnya mereka punya hak yang sama seperti saya ataupun anak-anak beruntung lainnya yang bisa bersekolah, dan meraih cita-citanya.
Kesembilan anak yang saya temui selama perjalanan ini mengingatkan saya akan seragam merah putih. Seragam terhormat bagi semua anak-anak Indonesia yang berhak mengenyam pendidikan. Nani, Imam, Susianti, Asih dan Recky cukup beruntung di desanya karena bisa bersekolah meskipun dengan segala keterbatasan. Setidaknya mereka berlima tetap meneruskan sekolahnya menuju SMP. Sedangkan Parman dan Mila yang seharusnya menikmati masa kanak-kanaknya dengan seragam merah putih terpaksa terperangkap dalam kerasnya kehidupan. Saya berdoa semoga anak-anak di Indonesia terlebih di pedalaman merasakan juga KEMERDEKAAN pendidikan dan dapat meraih impian mereka setinggi bintang di langit. MERDEKA!!!!



Seragam merah putih?
kayaknya putih merah deh, kalo diurutin dari atas ke bawah, kecuali kalau maksudmu itu diurutkan dari bawah ke atas …
Yoi, dari bawah ke atas
Lagian ga mungkin kan nyebut seragam putih merah, bendera negara mana tu